Demonstrasi Thailand Meniru Hong Kong Menjadi Tanda Tanya

Demonstrasi Thailand meniru Hong Kong kini ramai menjadi perbincangan kontroversial di berbagai kanal media massa maupun sosmed khususnya Asia Tenggara. Sejumlah aktivis pro demokrasi asal negara berlambang gajah tersebut terlihat secara gamblang tak sungkan mengadopsi gaya orasi demonstran Hong Kong.

Mereka memperjuangkan hak asasi manusia terkait peraturan pemerintah Thailand yang baru saja mengesahkan larangan untuk berkumpul. Protes keras dilayangkan langsung kepada sosok perdana menterinya sekaligus sang raja yang dulu begitu dicintai oleh rakyatnya secara penuh 100% tanpa diskon.

Demonstrasi Thailand Meniru Hong Kong Menjadi Tanda Tanya

Netizen mulai ramai menggunjingkan berita ini manakala sebuah foto bocor ke internet berisi cuplikan aksi demo di Thailand beberapa saat lalu. Terlihat jelas bahwa seorang pemuda yang menjadi fokus objek gambar sedang memayungi dirinya dari serangan gas air mata milik aparat pemerintah, persis seperti kejadian Hong Kong.

Keyakinan bahwa warga Thailand terinspirasi aksi demo Hong Kong semakin terpampang jelas tatkala kedapatan menggunakan atribut serupa. Jika mencari di kolom pencarian Google, maka kita akan menemukan foto berisi orang memakai helm, flashmob, gerakan isyarat jari tangan, hingga gas mask sekalipun.

Aksi kembar identik antara kedua negara sangat mirip bagaikan pinang dibelah dua, sampai sulit mempercayai bahwa mereka berasal dari wilayah berbeda. Mahasiswa Thailand menyatakan sedikitnya tiga macam aspirasi yang ingin mereka perjuangkan dari hasil demonstrasi besar – besaran tersebut.

Demonstrasi Thailand Meniru Hong Kong Karena Terinspirasi Dari Internet

Demonstrasi Thailand meniru Hong Kong berbuah petaka, manakala sejumlah oknum yang diduga pemimpin aksi demo mengalami penahanan oleh aparat. Kumpulan massa menjadi tercerai berai, sehingga para ‘jendral’ tersisa berusaha memperbaharui taktiknya.

Dengan modal nekat sekaligus tekad, demonstran Thailand mengaku akan melancarkan aksi keras berupa Gerakan Tanpa Pemimpin yang begitu kontroversial. Mereka bersumpah bahwasanya gerakan ini akan tetap berjalan meskipun kehilangan arahan dari ketua, karena ingin menganut filosofi bahwasanya setiap anggota merupakan pemimpin masing – masing.

Demonstrasi Thailand Meniru Hong Kong Karena Terinspirasi Dari Internet

Ketiadaan sosok pemimpin merupakan bagian dari kriteria khas demonstran negara Hong Kong sehingga bisa berlangsung sekian lama. Memang betul bahwasanya pasti tetap ada sosok kunci pemegang peranan sebagai koordinator, namun semua keputusan mutlak merupakan hasil kesepakatan bersama via aplikasi chatting Telegram.

Karena nampaknya aksi demo di Thailand juga akan berlangsung cukup lama, perusahaan aplikasi Telegram kebanjiran traffic beberapa minggu terakhir. Pasalnya, seratus persen partisipan demonstrasi tersebut bersatu hati memutuskan memanfaatkan Telegram sebagai sarana komunikasi tunggal mereka.

Ini juga merupakan respon atas tindakan pemerintah yang dengan sepihak melarang adanya komunitas yang membahas topik politik melebihi empat peserta. Alhasil, sebuah grup chat Telegram bertajuk Free Youth kini kebanjiran anggota yang terhitung waktu berjalan sudah melampaui angka 20 ribu pengguna dalam tempo sehari.

Aksi Demo Pemuda Thailand Tetap Kompak Berkat Metode Musyawarah

Demonstrasi Thailand Meniru Hong Kong juga kelihatan mirip dengan aksi demo yang mengancam atas kedatangan PM Jepang belakangan ini di sosmed. Meskipun mayoritas anggota grup chat lebih bersikap pasif sebagai pendengar belaka, namun mereka yang aktif menjadikannya sebagai media pembahasan strategi berikutnya.

Grup chat Telegram Free Youth juga saling berbagi informasi tentang kegiatan aparat kepolisian sehari – hari sehingga aksi mereka bisa terlaksana dengan lancar. Mereka pun meniru metode musyawarah demonstran Hong Kong dalam menentukan langkah selanjutnya via halaman grup Facebook.

Aksi Demonstrasi Thailand Meniru Hongkong Tetap Kompak Berkat Musyawarah

Sebagai contoh, pernah sekali waktu pihak administrator grup FB tersebut melayangkan pertanyaan melalui fitur jajak pendapat di kolom feed. Jika jumlah responden lebih banyak membalas dengan simbol ‘care’ maka itu berarti aksi demonstrasi akan dihentikan untuk sementara waktu.

Namun lain ceritanya jika jawaban yang lebih banyak muncul adalah emoticon ‘wow’ yang berarti perjuangan harus berlanjut di minggu berikutnya. Strategi ini terbukti efektif, sebab mereka menganut semboyan bahwa kasta setiap anggota adalah setara, sehingga tidak perlu khawatir aksinya tertunda akibat kehilangan pemimpin yang dipenjara oleh polisi.

Langkah ini sungguh berbeda apabila kita mencoba membandingkannya pada masa ketika sistem penggerak aksi demo Thailand masih mengandalkan satu pintu. Selain rawan ditunggangi oleh oknum yang memiliki kepentingan pribadi, cara ini juga beresiko tinggi sebab polisi mudah melacak pergerakannya.